Jodoh Selucu Ini (Part1)

Apalagi yang bikin galau setelah kita lulus, bisa kerja di tempat yang sebelumnya tidak pernah ada dalam mimpi ? yes, persoalan tentang jodoh ! haha
Kali ini aku mau berbagi aja tentang kegalauan, kesabaran yang masih terbatas dan tentang pertemuan dengan jodoh yang memang tak pernah aku sangka. Tahun 2016 adalah tahun usaha keras aku buat mencari restu orangtua, tepatnya bapak. Beliau kekeuh banget, mungkin ada satu atau dua hal yang membuatnya tidak yakin dengan pasangan yang aku pilih ini. Sampai pada akhirnya bulan September 2017 itu datang dan ingat sekali waktu itu merayakan anniversary ke 4 tahun pacaran. Alay memang yah, belum tentu jodoh tapi udah kepedean sekali akan bersama selamanya.

Sampai tiba di bulan Oktober, suasana hati sudah makin tidak jelas, galau berkepanjangan dan terbelesit dalam hati : kalo memang nikah untuk ibadah, bukankah tidak ada salahnya jika bukan menikah dengan dia ?
Pemikiran ini sampai berkali-kali aku coba telaah sendiri apa maksudnya ada pikiran seperti itu, sambil curhat colongan sama teman-teman terdekat. Aku beranikan diri berbicara face to face bersamanya tentang permasalahan restu yang tak kunjung usai ini.

“bagaimana kalo kita masing-masing saja dulu, kalo jodoh toh nanti juga kita akan menikah. Tapi sekarang kita temenan, gmn ? lagian kita juga ada niat hijrah kan dari masa lalu yang enggak banget ini ? setuju ?”
Tanpa Panjang dan banyak basi-basi, dia pun mengiyakan. Aku ambil moment ini karena pas sekali ku rasa, ketika kita memang sudah mengerti dan merasuk ke dalam hati kalo pacaran itu gada gunanya, numpuk dosa dan makin tidak direstui.

Muncullah Adit, dia teman sekantor ku. Awalnya aku tak pernah mengenalnya, tapi setelah ku tanya bapak ku asal muasal mas Adit ini ternyata dia yang menghampiri ayahku dan menyatakan ingin mengenalku. Sebagai seorang bapak, bapak ku tidak langsung menolak atau menerimanya, semua dibalikan kembali pada ku. Bapak ku selalu berkata pada siapapun laki-laki yang ingin mendekatiku, bahwa aku itu anaknya jutek dan kalo sudah tidak suka sama laki-laki, tidak akan digubrisnya sama sekali.

Perasaan ku waktu itu bilang : yaudah dicoba dulu deh taaruf yang benar, kalo jodoh ada jalannya, kalo bukan jodoh pun akan Allah tunjukkan. Singkat cerita, aku giatkan lagi salat istikhoroh dan berdoa pada Allah akan laki2 bernama Adit ini. Semakin hari semakin terasa netral hatiku, tidak ada mantan ku yang 4 tahun itu dan mas Adit ini. Seakin hari pula semakin banyak info yang aku tahu tentang mas Adit. Tidak ku sangka, bapak pun mencari informasi tentang latar belakang mas Adit.

Sampai pada seminggu aku salat istikhoroh, rasanya ini sudah tidak bisa dilanjutkan. Hati ku berkata tidak mau menerima mas Adit dengan alasan tertentu yang belum bisa aku terima. Tentunya kita punya standar “jodoh” yang kita inginkan. Ada yang bisa kita toleransi dan adapula yang prinsip, ini bukan tentang ego ya, aku sudah melunturkan semua ego ku pada sosok jodoh tersebut. Tapi tetap tidak bisa ku terima. Aku coba meminta nasehat pada orang yang ku anggap mengerti pada porsinya. Keputusan ku sudah bulat, aku tidak ingin menikah denganmu. Alhamdulillah, bapak ku juga mengiyakannya.

Perjalanan terus berlanjut, suatu ketika aku baru masuk di perusahaan baru dan tentunya memiliki teman baru. Perempuan, tidak afdol sepertinya jika tidak selfie haha. Kita selfie bareng bertiga dan Amrina, temanku ini posting di socmednya. Langsung saja laki-laki yang tak pernah ku impikan itu melihatnya dan langsung add ku sebagai temannya di Instagram. Prinsip ku daridulu masih sama, tidak akan menerima pertemanan di socmed jika tidak kenal sebelumnya dan inipun ku lakukan pada laki-laki yang bernama Heru Prasetiawan. Mas Heru mencoba menghubungi ku lewat dm Instagram dan meng-add ku di facebook juga. Awalnya itu sangat tidak nyaman ya di hubungi ditanya sudah makan belum ? sudah salat belum mba bella ? Risih dan kesel juga sih kok kaya anak kecil. Tapi yasudahlah yah kan itu salah satu usaha pendekatan hehe.

to be continued …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *